Booklet – Kurban yang Agung (Indonesian)


Tentang buku ini

Buku ini menyentuh topik-topik yang mirip di kalangan Islam dan Kristen. Buku ini mengacu pada Al-Quran dan Alkitab untuk memberikan perspektif yang lebih luas mengenai topik-topik tersebut dan mengajarkan kita bagaimana kita bisa lebih dekat dengan Allah. Tujuan buku ini adalah untuk mendorong kaum Muslim dan Kristen untuk berdialog bersama dan memperkuat pemahaman di antara kedua agama ini.

1. Ibrahim

Sahabat Allah

Ibrahim adalah seorang Nabi besar dan dianggap oleh umat Islam dan Kristen sebagai nenek moyang agama mereka. Ibrahim memiliki hubungan yang benar dengan Allah dan bahkan disebut sebagai sahabat Allah di dalam Al-Quran dan Alkitab.

Di dalam Al-Quran, kita membaca, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Surah 4:125)

Hal yang sama juga diajarkan di dalam Alkitab yang mengatakan, “Percayalah Ibrahim kepada Allah, maka hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran, dan ia disebut sebagai sahabat Allah.” (Yakobus 2:23)

Bagaimana mungkinkah Ibrahim bisa mendapatkan kehormatan tersebut dari Allah dan bahkan dianggap oleh Allah sebagai sahabat-Nya? Salah satu alasannya adalah bahwa meskipun banyak orang di zaman Ibrahim menyembah berhala, termasuk ayahnya sendiri, Ibrahim memutuskan untuk hanya menyembah satu Tuhan.

Di dalam Al-Quran, Ibrahim mengatakan kepada ayahnya, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata… Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Surah 6:74, 79)

Kita pun juga harus berhati-hati supaya kita tidak memiliki tuhan-tuhan lain di dalam hidup kita. Memang kita mungkin tidak menyembah berhala yang kelihatan (patung dewa, dll.) tetapi apakah kita memiliki hal-hal yang kita anggap lebih tinggi dan penting daripada Allah misalnya uang, karir atau keluarga? Hal-hal ini semua dapat dengan mudahnya menjadi “berhala” di dalam kehidupan kita dan mengalihkan perhatian kita dari menyembahi satu Allah yang mutlak.

Selain Ibrahim, ada satu lagi nabi yang dekat dengan Allah. Bahkan Allah berbicara kepadanya secara langsung. Apakah Anda tahu siapakah nabi ini? Kita akan berbicara lebih banyak tentang dia di bab berikutnya dan belajar dari hidupnya bagaimana kita juga dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Iman Ibrahim kepada Allah diperhitungkan sebagai kebenaran

Meskipun Ibrahim menjalani hidup yang menyenangkan Allah, dia tidak sepenuhnya bebas dari dosa. Di dalam Al-Qur’an, Ibrahim berdoa kepada Allah, “mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (Surah 26:82)

Meskipun Ibrahim tidak sempurna, namun hidupnya berkenan kepada Allah oleh karena imannya. Hal ini memberikan dorongan yang besar untuk kita. Tidak peduli betapa kerasnya kita mencoba, kadang-kadang kita tetap jatuh ke dalam dosa. Tapi Allah adalah Allah yang mengampuni dan Dia akan mengampuni kita jika kita bertobat. Dari kehidupan Ibrahim, kita tahu bahwa kita mampu untuk menjalani hidup yang berkenan kepada Allah walaupun kita bukan manusia yang sempurna. Apa sajakah yang Ibrahim lakukan untuk menyenangkan hati Allah dan bagaimana kita bisa belajar dari hidupnya?

Kita membaca sebelumnya bahwa Ibrahim disebut sahabat Allah karena dia hanya menyembah Allah saja dan tidak memiliki berhala selain Allah. Selain itu, ada satu lagi hal penting yang dapat kita pelajari dari kehidupannya. Ibrahim beriman kepada Allah.

Iman kepada Allah begitu penting sampai Allah menganggap kita benar bukan hanya melalui perilaku keagamaan kita yang tampak di luar, tetapi juga melalui iman kita kepada-Nya. Al-Quran mengatakan, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” (Surah 2:177)

Alkitab juga mengatakan kepada kita bahwa Allah menganggap Ibrahim benar ketika ia percaya Allah. Pada saat Ibrahim masih belum mempunyai anak dan baik dia serta istrinya sudah lanjut usia, Allah menjanjikan dia keturunan yang banyak. Meskipun ini tampaknya mustahil, Ibrahim percaya kepada Allah dan dianggap benar karena imannya.

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Allah berkata kepada Ibrahim, ““Menengadahlah ke langit dan hitunglah bintang-bintang jika engkau dapat menghitungya.” Firman-Nya kepadanya, “Demikianlah banyaknya keturunanmu kelak.” Lalu Abram (Nama lain Ibrahim) menaruh iman kepada Allah, dan hal itu diperhitungkan baginya sebagai kebenaran.” (Kejadian 15:5-6)

Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang berharga kepada Allah

Ibrahim beriman kepada Allah sehingga membuatnya benar-benar berkomitmen untuk mengikuti Allah. Al-Quran mengatakan bahwa “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif.” (Surah 16:120)

Al-Quran dan Alkitab memberitahu kita bahwa Allah meminta Ibrahim untuk mengorbankan anaknya. Setelah menunggu begitu lama untuk memiliki keturunan, anak Ibrahim pasti telah menjadi sesuatu yang paling berharga baginya. Namun ketika Allah memintanya untuk mengorbankan putranya, Ibrahim rela mematuhi.

Di dalam Al-Quran kita membaca, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”” (Surah 37: 102-107)

Dalam hal apakah Allah meminta kita untuk taat kepada-Nya? Apakah kita bersedia untuk mematuhi Allah apapun harga yang harus kita bayar? Apakah kita bersedia untuk memberikan sesuatu yang berharga demi mentaati Allah?

Kasih Ibrahim kepada Allah sangatlah besar sampai dia rela mengorbankan anaknya sendiri. Meskipun kasih Ibrahim untuk Allah besar, menurut Anda apakah kasih Allah bagi manusia akan jauh lebih besar? Jika kasih Allah bagi manusia begitu besar, apakah Dia juga akan bersedia untuk mengorbankan sesuatu yang berharga bagi-Nya demi kita?

Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita

Allah adalah Allah yang penuh kasih. Al-Quran dan Alkitab memberitahu kita bahwa pada akhirnya, Allah tidak mengizinkan Ibrahim untuk mengorbankan anaknya melainkan Dia memberikan tebusan yang akan mati menggantikan anaknya. Yang menarik adalah bahwa Al-Quran mengatakan kepada kita bahwa binatang yang diberikan oleh Allah adalah seekor sembelihan yang besar atau agung. Mengapa seekor hewan sederhana disebut sembelihan yang besar atau agung? Apakah karena hewan kurban itu menunjuk kepada sebuah pengorbanan yang lebih besar di masa yang akan datang? Apa yang tertulis di Alkitab mengenai cerita ini juga tampaknya menunjukkan kepada fakta ini.

Di dalam Alkitab, kita membaca, “Kemudian Ibrahim mengulurkan tangannya, mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Akan tetapi, Malaikat Allah berseru kepadanya dari langit, “Ibrahim! Ibrahim!” Jawabnya, “Ya, Tuan.” Firman-Nya, “Jangan celakakan anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, karena sekarang Aku tahu bahwa engkau bertakwa kepada Allah dan tidak segan-segan menyerahkan anakmu, anakmu yang tunggal itu, kepada-Ku.” Ketika Ibrahim mengangkat wajahnya dan mengamati, tampaklah di belakangnya seekor domba jantan yang tanduknya tersangkut pada semak-semak. Ibrahim pergi mengambil domba jantan itu, lalu mempersembahkannya sebagai kurban bakaran menggantikan anaknya. Maka Ibrahim menamai tempat itu “Allah menyediakan” Sebab itu sampai pada hari ini orang mengatakan, “Di atas gunung Allah, akan disediakan.”” (Kejadian 22:10-14)

Di dalam ayat-ayat sebelumnya, ketika anak Ibrahim menanyakan di manakah hewan kurban itu berada, Ibrahim menjawab bahwa Allah akan memberikan seekor domba supaya anaknya tidak perlu mati. Tetapi apa yang akhirnya Allah berikan kepada Ibrahim sebenarnya adalah seekor biri-biri jantan, bukan seekor domba. Oleh karena itu, Ibrahim terus menantikan hari ketika Allah akan memberikan seekor domba sebagai korban di gunung yang sama ini. Itulah sebabnya dia menamakan tempat itu “Allah akan menyediakan” dan bukan “Allah telah menyediakan.”

Allah tidak hanya memberikan tebusan yang menyelamatkan anak Ibrahim. Dalam Al-Quran dan Alkitab, Allah sendiri yang juga akan menyediakan tebusan yang dapat menyelamatkan jiwa kita. Tidak ada yang dapat kita persembahkan kepada Allah untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Hanya Allah sendiri yang dapat menyelamatkan kita.

Al-Quran mengajar kebenaran ini ketika mengatakan, “Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi syafa’at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka.” (Surah 6:70)

Karena belas kasihan-Nya, Allah akan menyelamatkan kita dari hukuman. Tidak ada orang lain yang bisa. Kita tidak bisa memberikan sebuah tebusan untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Apakah tebusan besar ini, yang akan Allah berikan untuk menyelamatkan kita?

Pentingnya hewan kurban

Hewan kurban sangatlah penting bagi Allah. Di dalam kasus Ibrahim, Allah tidak hanya menghentikan Ibrahim mengorbankan anaknya dan mengirim dia kembali. Tidak, Allah benar-benar menyediakan seekor hewan sehingga Ibrahim masih bisa mempersembahkan korban kepada-Nya.

Hewan kurban di dalam kasus Ibrahim menyelamatkan nyawa anaknya. Ada sebuah cerita yang menarik di dalam Al-Quran yang menceritakan tentang bagaimana seekor binatang yang dikorbankan bisa memberikan kehidupan kepada seorang yang telah mati. Ketika orang-orang ragu-ragu tentang siapa yang telah membunuh seseorang, Musa memerintahkan mereka untuk mengorbankan hewan yang tidak bercacat dan ketika tubuh orang yang meninggal menyentuh hewan kurban itu dia dihidupkan kembali.

Baik Al-Quran dan Alkitab memberikan kepentingan yang besar kepada pengorbanan hewan dan kepada apa yang dilambangkan oleh pengorbanan itu. Setelah Ibrahim, Allah memberikan aturan yang lebih rinci kepada seorang nabi tentang seluruh sistem pengorbanan hewan. Apakah Anda tahu siapakah nabi ini?

Meskipun pengorbanan hewan itu penting, ritual pengorbanan hewan belaka tidak berarti apa-apa kepada Allah kecuali hati kita benar.

Al-Quran mengatakan, “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati)… Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Surah 22:36-37)

Alkitab menggemakan kebenaran yang sama ketika Daud menulis di Zabur (Mazmur), “Sebab Engkau tidak berkenan kepada kurban sembelihan. Sekiranya aku mempersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Kurban sembelihan bagi Allah ialah jiwa yang hancur. Hati yang hancur dan remuk tak akan Kaupandang hina, ya Allah… Maka Engkau akan berkenan menerima kurban-kurban sembelihan yang benar, yaitu kurban bakaran dan kurban yang dibakar seluruhnya, lalu lembu-lembu jantan akan mereka persembahkan di atas tempat pembakaran kurban-Mu.” (Zabur 51:19,21)

Apakah kita menganggap hubungan kita dengan Allah hanya sebagai tindakan ritual keagamaan? Apakah hati kita benar-benar mencari Allah?

Dari kisah-kisah Ibrahim baik di dalam Al-Quran atau Alkitab, kita belajar bahwa dia memang orang yang sangat dihormati oleh Allah. Ada seorang nabi lain setelah Ibrahim yang juga sangat dihormati oleh Allah. Dia bahkan terhitung sebagai salah satu orang yang paling dekat dengan Allah. Siapakah nabi ini?

Ibrahim, meskipun dia disebut sebagai sahabat Allah, memiliki momen di mana dia berdosa dan harus meminta pengampunan Allah. Apakah ada orang di dalam Al-Quran dan Alkitab yang tidak berdosa dan tidak pernah meminta pengampunan dari Allah?

2. Musa

Allah berbicara kepada Musa secara langsung

Ibrahim adalah seorang nabi yang dekat dengan Allah dan disebut sahabat Allah. Seorang nabi lain yang juga dekat dengan Allah ialah Musa. Al-Quran dan Alkitab memberitahu kita bahwa Musa begitu dekat dengan Allah hingga Allah turun ke bumi untuk berbicara dengan Musa secara langsung dan bukan melalui seorang malaikat.

Al-Quran mengatakan, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.” (Surah 4:164)

Alkitab mengatakan, “Dengan Musa, Allah bicara berhadapan muka, sama seperti manusia berbicara dengan sahabatnya.” (Keluaran 33:11)

Al-Quran mengatakan, “Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung. Ia berkata kepada keluarganya: “Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sesuluh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”. Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam…”” (Surah 28:29-30)

Alkitab mengatakan, “Musa melihat api menyala-nyala di tengah semak-semak itu tetapi semak-semak itu tidak terlalap api. Pikir Musa, “Sebaiknya aku mendekat ke sana untuk mengamati hal hebat yang kulihat itu. Mengapa semak-semak itu tidak terbakar?” Ketika Allah melihat bahwa Musa mendekat untuk mengamati, berserulah Allah kepadanya dari tengah-tengah semak-semak itu, firman-Nya, “Musa, Musa!” Jawabnya, “Ya, ini aku.” (Keluaran 3:2-4)

Apakah yang bisa kita pelajari dari kehidupan Musa untuk membantu kita menjalani hidup yang berkenan kepada Allah? Pertama-tama, Musa, seperti Ibrahim, tidak menyembah banyak tuhan dan mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah.

Di dalam Alkitab, Musa mengajarkan, “Dengarlah, hai Israil! Allah adalah Tuhan kita. Allah itu esa.” (Ulangan 6:4)

Agama yang sejati selalu dimulai dari Ketuhanan yang Maha Esa. Allah begitu agung dan kita tidak dapat mempersekutukan Dia.

Di masa lalu, Allah berbicara kepada kita melalui para nabi-Nya. Hari ini, Allah terus “berbicara” kepada umat-Nya terutama melalui Firman-Nya. Apakah kita memberikan perhatian kepada Allah ketika Dia berbicara kepada kita? Apakah kita menghabiskan cukup waktu untuk membaca dan merenungkan firman Allah di dalam Taurat, Zabur dan Injil?

Allah menunjukkan rahmat-Nya terhadap Musa

Kita membaca sebelumnya bahwa Ibrahim, meskipun dekat dengan Allah, tetap berbuat dosa dan Allah memaafkannya. Demikian juga kita baca dalam Al-Quran dan Alkitab bahwa Musa melakukan dosa yang serius yaitu pembunuhan dan Allah juga mengampuninya demi kemurahan-Nya.

Alkitab juga memberitahu kita bahwa “Suatu hari, ketika Musa sudah besar, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya dan melihat beban mereka akibat kerja paksa. Lalu dilihatnya seorang Mesir memukuli seorang Ibrani, salah satu dari saudara-saudaranya itu. Musa menoleh ke sana kemari, dan ketika dilihatnya tidak ada seorang pun, dibunuhnyalah orang Mesir itu lalu disembunyikannya mayatnya dalam pasir.” (Keluaran 2:11-12)

Dari apa yang kita telah baca tentang Ibrahim dan Musa, dua nabi besar Allah, kita belajar bahwa memang ini sifat manusia untuk jatuh ke dalam dosa. Namun ketika kita berbuat dosa, kita memiliki keyakinan bahwa Allah adalah Allah penyayang dan pengasih. Jika kita bertobat, Allah rela mengampuni kita dan dapat terus mamakai kita untuk melakukan hal-hal yang besar bagi-Nya, seperti yang Ia lakukan dalam kasus Ibrahim dan Musa. Apakah kita sering datang ke hadapan Allah untuk mengakui dosa kita?

Musa membuat pengorbanan besar untuk menaati Allah

Dalam bab sebelumnya, kita melihat bagaimana Ibrahim bersedia mematuhi Allah meskipun ia harus mengorbankan anaknya. Musa juga harus membuat pengorbanan besar ketika ia memilih untuk menaati Allah. Allah telah memerintahkan Musa untuk meminta Firaun membiarkan orang Israil meninggalkan tanah Mesir. Musa memiliki banyak alasan untuk merasa takut. Mesir adalah bangsa yang kuat dan ia harus meminta raja Mesir untuk membiarkan umat Allah pergi. Musa harus melakukannya dengan risiko kehilangan nyawanya. Namun ia tetap mentaati Allah.

Kita bisa belajar beberapa pelajaran penting dari kehidupan Ibrahim dan Musa, dua nabi yang dekat dengan Allah. Kedua nabi tersebut menaruh iman mereka kepada satu Allah yang benar dan mereka benar-benar berkomitmen untuk menaati Allah apapun harganya. Jika Anda tahu bahwa Allah telah memanggil Anda untuk menaati-Nya dalam sesuatu hal, apakah Anda bersedia untuk mematuhi Allah meskipun harganya mahal?

Bertahun-tahun kemudian, Isa juga memperingatkan para murid-Nya bahwa mereka akan menghadapi penganiayaan, seperti para nabi sebelum mereka. Tetapi meskipun harga untuk mengikuti Allah tinggi, begitu jugalah imbalannya.

Isa Al-Masih berkata di dalam Alkitab, “Berbahagialah kamu, apabila karena Aku, kamu dicaci maki, dianiaya, serta difitnah orang. Bersukaria serta bergembiralah, sebab pahalamu besar di surga. Pada masa lalu pun para nabi telah dianiaya.” (Matius 5:11-12)

Allah memberikan Musa banyak tanda-tanda

Ketika Allah memanggil kita untuk taat kepada-Nya dalam sesuatu hal, Dia tidak akan meninggalkan kita tidak berdaya dan sendirian. Dia selalu menyediakan apa yang kita butuhkan untuk menyelesaikan tugasnya. Musa dipanggil Allah untuk melakukan tugas yang sangat sulit yaitu memaksa Firaun untuk membiarkan orang Israil pergi. Untuk membantu Musa, Allah memberinya banyak tanda, tanda-tanda yang supernatural dan yang akan meyakinkan Firaun bahwa Allah menyertai Musa.

Al-Quran memberitahu kita, “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata, maka tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir’aun berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku sangka kamu, hai Musa, seorang yang kena sihir”.” (Surah 17:101)

Meskipun Musa melakukan sembilan tanda-tanda kepada orang Mesir, Firaun tidak bertobat. Sebaliknya, dia tidak mengakui bahwa Allah menyertai Musa, dan malah menuduh Musa melakukan ilmu sihir.

Alkitab mencatat bahwa tanda yang kesepuluhlah yang menyebabkan Firaun akhirnya menyerah dan mengizinkan bani Israil meninggalkan Mesir. Tanda yang kesepuluh adalah peristiwa dimana Allah melewati Mesir dan membunuh semua anak sulung.

Musa berkata, “Beginilah firman Allah, “Pada waktu tengah malam Aku akan datang ke tengah-tengah Mesir. Maka semua anak sulung di Tanah Mesir akan mati…”” (Keluaran 11:4-5)

Tetapi Allah mengasihi umat-Nya dan memiliki solusi bagi mereka untuk lepas dari kematian. Sama seperti hewan yang menjadi tebusan dan mati menggantikan putra Ibrahim, prinsip yang sama dari kematian penebusan menyelamatkan bani Israil. Anak sulung di dalam sebuah keluarga tidak akan mati jika keluarga tersebut mengorbankan seekor hewan yang tidak bercacat dan menempatkan darah hewan pada ambang pintu mereka.

Di dalam Alkitab, Allah memerintahkan Musa, “Katakanlah kepada seluruh Jemaah Israil demikian, ‘Pada hari kesepuluh dalam bulan ini setiap orang harus mengambil seekor anak domba menurut kaum keluarganya, seekor anak domba untuk setiap rumah tangga. Anak domba atau anak kambing itu – kamu boleh memilhnya – haruslah jantan, berumur setahun dan tak bercacat. Kamu harus mengurusnya sampai hari keempat belas dalam bulan ini, lalu setelah itu seluruh Jemaah Israil harus menyembelihnya pada waktu magrib. Darahnya harus diambil sedikit lalu dibubuhkan pada kedua tiang pintu serta ambang atas setiap pintu rumah, tempat orang memakannya. Pada malam itu juga, Aku akan melintasi Tanah Mesir dan menewaskan semua anak sulung di Tanah Mesir dari anak manusia sampai anak binatang. Semua ilah orang Mesir akan Kujatuhi hukuman. Akulah Allah. Darah itu akan menjadi tanda bagimu di rumah-rumah yang kamu tinggali. Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan melewati kamu sehingga tidak akan ada tulah kemusnahan di antara kamu saat Aku mengazab Tanah Mesir.” (Keluaran 12:3, 5-7, 12-13)

Alih-alih anak Ibrahim, seekor binatanglah yang mati di tempatnya. Alih-alih anak-anak sulung di Mesir, hewan-hewan yang dikorbankanlah yang mati menggantikan mereka. Ada sebuah prinsip umum bahwa pengorbanan hewan bertindak seperti pengganti.

Musa menetapkan ritual pengorbanan hewan

Musa mengajarkan orang-orang tentang pentingnya hewan kurban untuk menghapuskan dosa-dosa kita dan menyelamatkan jiwa kita dari maut.

Di dalam Alkitab, Allah memerintahkan Musa, “Kemudian katakanlah kepada bani Israil, ‘Ambillah seekor kambing jantan untuk menjadi kurban penghapus dosa, seekor anak domba tanpa cacat berumur setahun untuk menjadi kurban bakaran…” (Imamat 9:3)

Al-Quran juga berbicara tentang persembahan hewan kurban kepada Allah ketika Anda tidak dapat memenuhi persyaratan tertentu waktu ibadah haji. Kaum Muslim percaya bahwa setelah mereka melakukan ibadah haji, dosa-dosa mereka akan dihapuskan.

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji… (Surah 2:196)

Sarjana Muslim terkemuka Imam Ghazali mengajarkan, “Pengorbanan dalam skala massal membawa orang dekat pada Allah. Berharap supaya melalui setiap anggota badan hewan yang dikorbankan, Allah akan menyelamatkan setiap anggota tubuh Anda dari api neraka.” (Ihya Ulumuddin, Jilid.1 halaman.257)

Mengapa kurban harus dipersembahkan kepada Allah sebelum dosa dapat diampuni? Apakah ini karena Allah adalah Hakim yang adil yang tidak bisa mengabaikan dosa dan karena itu hukuman harus dibayar oleh kita atau oleh korban tebusan lain?

Mengapa hewan yang dikorbankan haruslah seekor hewan yang tak bercacat? Dapatkah sesuatu yang bercacat menghapus noda dan dosa kita?

Apakah seekor hewan belaka cukup berharga untuk bertindak sebagai pengganti manusia atau apakah mereka hanya melambangkan sebuah pengorbanan yang lebih besar – apa yang Al-Quran sebut seekor sembelihan yang besar?

Allah memberikan Musa Firman-Nya

Baik Al-Quran maupun Alkitab memberitahu kita bahwa Allah memberikan Musa kitab Taurat (atau Hukum) untuk menunjukkan kepada umat-Nya bagaimana mereka seharusnya hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya.

Al-Quran mengatakan, “Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.” (Surah 6:154)

Alkitab mengatakan, “Bukankah Musa telah memberikan kepadamu hukum Taurat?” (Yahya 7:19)

Kaum Muslim percaya bahwa setelah Allah memberikan Musa kitab Taurat (Hukum), Dia juga memberikan kitab Zabur (Mazmur), kitab Injil (Injil) dan akhirnya Al-Quran, yang sesuai dengan semua Kitab-Kitab Suci sebelumnya yang dimiliki oleh orang-orang yang hidup pada zaman Muhammad.

Di dalam Al-Quran, Allah mengatakan kepada Muhammad, “Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya.” (Surah 35:31)

Al-Quran menegaskan bahwa sepanjang periode waktu yang panjang dari Musa sampai Muhammad, tidak ada yang bisa merusak firman Allah karena Allah sendiri yang menjaga firman-Nya dengan aman.

Di dalam Al-Qur’an, Allah mengatakan kepada Muhammad, “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (Surah 5:48)

Alkitab juga bersaksi bahwa kuasa Allah mampu melindungi firman-Nya dari kerusakan.

Alkitab mengajarkan, “Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.” (Yesaya 40:8)

Allah menjaga firman-Nya dengan baik selama berabad-abad karena firman-Nya sangat berharga. Apakah kita sering membaca firman Allah? Apakah kita mencoba untuk memahami firman Allah dan merenungkan ajaran-Nya?

Karena Allah telah mengungkapkan kepada kita pesan-Nya di dalam semua buku-buku ini, Dia menuntut kita untuk membaca dan memahami semua buku-buku-Nya.

Al-Quran mengatakan, “Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (Surah 4:136)

Musa memberikan orang-orang kitab Taurat dan meminta mereka untuk memilih dengan teliti jalan mana yang mereka akan ambil – jalan Allah yang menuju kepada kehidupan atau jalan sesat yang menuju maut.

Di dalam Alkitab Musa mengajar “aku telah menghadapkan kepadamu kehidupan dan kematian, berkah dan kutuk. Pilihlah kehidupan supaya engkau dan keturunanmu dapat hidup…” (Ulangan 30:19)

Allah memang Allah yang pengasih. Dia menunjukkan kepada kita jalan yang benar tetapi tidak memaksa kita untuk menerimanya. Tidak ada paksaan dalam agama yang benar. Allah ingin kita menggunakan kehendak bebas kita untuk memilih jalan yang benar. Al-Quran juga mengajarkan tentang kebebasan beragama ketika ia mengatakan, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (Surah 2:256) Namun dalam ayat lain, Muhammad juga mengatakan kepada orang-orang, “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (Surah 109:6)

Kita berterima kasih kepada Allah karena Dia memberikan kita kebebasan untuk memilih ini dan meminta Allah untuk memberikan kita hikmat untuk membedakan jalan yang benar dari yang sesat.

Allah memberi kita firman-Nya melalui para nabi, yang diturunkan kepada kita dalam bentuk sebuah buku. Apakah ini satu-satunya cara Firman Allah diturunkan kepada kita? Dapatkah Firman Allah juga datang dalam bentuk seorang manusia? Ada seorang nabi yang lahir setelah Musa yang disebut Firman Allah. Siapakah nabi ini?

Musa disebut terhormat di dunia ini, tetapi seseorang yang datang setelah dia disebut terhormat di dunia ini dan juga di dunia yang akan datang. Siapakah pribadi ini?

Musa memberi orang-orang tanda-tanda yang jelas sehingga orang tahu bahwa ia adalah dari Allah. Namun, pribadi yang datang setelah dia ini tidak hanya memberikan tanda-tanda yang jelas untuk membuktikan bahwa ia adalah dari Allah, ia sendiri disebut sebuah Tanda kepada umat manusia. Siapakah pribadi ini?

3. Isa Al-Masih

Isa Al-Masih pribadi yang tidak berdosa

Kita telah melihat di dalam bab-bab sebelumnya bahwa meskipun para nabi lainnya dekat dengan Allah, namun mereka tidak menjalani hidup yang sepenuhnya bebas dari dosa. Ketika kita melihat Isa, kita menemukan seseorang yang unik, yang sama sekali tidak terkait dengan dosa.

Al-Quran mengajarkan bahwa Isa adalah suci. Ketika malaikat datang kepada Maryam ia berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” (Surah 19:19)

Kata suci di dalam ayat ini tidak diterapkan kepada orang lain di dalam Al-Quran.

Di dalam Alkitab, Isa juga disebut “yang suci”. Ketika setan melihat Isa, mereka mengakui identitas dia dan berkata, “Apa sangkut paut-Mu dengan kami, hai Isa orang Nazaret? Apakah Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau! Engkau adalah Yang Suci, yang datang dari Allah!” (Markus 1:24)

Isa sendiri menegaskan bahwa ia suci ketika ia menanyakan orang-orang, “Siapa di antara kamu yang dapat menunjukkan bahwa Aku berdosa? Jika Aku mengatakan kebenaran, mengapa kamu tidak percaya kepada-Ku?” (Yahya 8:46)

Kita telah melihat di dalam bab sebelumnya bahwa Musa digambarkan sebagai pribadi yang terhormat di dunia ini. Namun Isa digambarkan sebagai pribadi yang terhormat di dunia ini serta di dunia yang akan datang. Ia juga termasuk orang-orang yang paling dekat dengan Allah.

Al-Quran mengatakan kepada kita bahwa malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)…” (Surah 3:45)

Tidak ada yang bisa datang dekat kepada Allah kecuali dia seorang yang kudus.

Isa Al-Masih Firman Allah

Musa diberi firman Allah dalam bentuk kitab Taurat. Namun Isa disebut Firman Allah dalam Al-Quran dan Alkitab.

Al-Quran mengatakan, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)…” (Surah 3:45)

Alkitab mengatakan bahwa ketika Isa lahir ke dunia ini, “Kalam itu telah menjadi manusia lalu tinggal di antara kita…” (Yahya 1:14)

Apakah Firman Allah sesuatu yang kekal atau sesuatu yang muncul pada suatu waktu tertentu? Jika firman Allah tidak ada dengan Allah dari kekekalan, apakah itu berarti bahwa ada waktu ketika Allah tidak mempunyai kemampuan untuk ‘berkomunikasi’, yang jelas mustahil?

Apakah mungkin Firman Allah itu abadi, namun muncul pada satu waktu tertentu? Kaum Muslim percaya bahwa Al-Quran adalah kekal, Firman Allah yang tidak diciptakan. Namun kaum Muslim juga percaya bahwa pesan Al-Quran turun dari surga kepada manusia pada titik tertentu dalam sejarah ketika malaikat Jibril membawa pesannya kepada Muhammad. Dan meskipun kaum Muslim percaya bahwa esensi Al-Quran tidak diciptakan, buku fisik yang mereka miliki muncul pada titik tertentu dalam sejarah, ketika dicetak.

Mengapa Isa disebut Firman Allah?

Kita dapat memahami bahwa kitab suci disebut Firman Allah karena ia adalah wahyu Allah. Mengapa Isa juga disebut Firman Allah? Mungkinkah Isa disebut Firman Allah karena Dia adalah wahyu Allah yang hidup?

Isa mengajarkan di dalam Alkitab bahwa ia menyatakan Allah. Dia mengatakan, “Jika kamu sudah mengenal Aku, kamu pun mengenal Bapa-Ku… Orang yang melihat Aku berarti sudah melihat Sang Bapa.” (Yahya 14:7-9)

Sangat menarik bahwa di dalam Alkitab, Isa menyebut Allah sebagai Bapa-Nya dan dirinya sebagai anak Allah. Namun, kita tidak boleh menganggap ini berarti bahwa Allah memiliki anak secara fisik.

Ayat ini di dalam Al-Quran menjelaskan bahwa Allah tidak memiliki seorang putra secara fisik karena Dia tidak mengambil seorang istri untuk diri-Nya.

Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. (Surah 6:101)

Ketika umat Kristen menyebut Isa sebagai anak Allah, itu harus dipahami secara berbeda. Isa sebagai Firman yang hidup mengungkapkan sifat Allah kepada kita dan oleh sebab itu dia menyebut Allah sebagai Bapa dan diri-Nya sendiri sebagai anak Allah. Seperti kita menggunakan ungkapan bahasa Inggris yang berbunyi “seperti ayah, seperti anak”.

Alkitab tidak mengajarkan bahwa Allah memiliki hubungan fisik dengan Maryam yang menghasilkan kelahirannya Isa. Tidak, Allah hanya meniupkan Ruh-Nya ke dalam Maryam dan ia melahirkan Isa. Hal ini diajarkan baik di dalam Al-Quran dan maupun di dalam Alkitab.

Al-Quran mengatakan, “Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.” (Surah 21:91)

Alkitab mengatakan, “Ruh Allah akan datang ke atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan meliputi engkau. Sebab itu anak yang akan dilahirkan itu akan disebut kudus, Sang Anak yang datang dari Allah.” (Lukas 1:35)

Isa Al-Masih Tanda untuk umat manusia

Musa diberi tanda untuk membuktikan bahwa ia adalah seorang nabi Allah. Isa juga diberikan banyak tanda-tanda untuk membuktikan bahwa ia datang dari Allah, melalui banyak mujizat yang ia dilakukan.

Al-Quran mengatakan kepada kita bahwa Isa mampu melakukan banyak mujizat, menyembuhkan banyak orang sakit dan bahkan membawa orang kembali dari kematian.

Di dalam Al-Quran, Isa mengatakan, “dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Surah 3:49)

Karena Isa adalah Firman Allah, Al-Quran memberitahu kita bahwa Isa mampu berbicara bahkan ketika ia masih bayi. Al-Quran juga mengandung kisah Isa membuat seekor burung hidup dari tanah liat.

(Ingatlah), ketika Allah mengatakan: Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkan kamu dengan ruhul qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa; dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat dan Injil, dan (ingatlah pula) diwaktu kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan ijin-Ku, kemudian kamu meniup kepadanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku… (Surah 5:110)

Alkitab juga memberitahu kita bahwa Isa melakukan banyak mujizat.

Sejumlah besar orang datang kepada Isa. Mereka membawa orang yang lumpuh, timpang, buta, bisu, dan banyak lagi yang lain. Kemudian para penderita itu mereka letakkan di dekat kaki-Nya dan Ia menyembuhkan mereka semua. (Matius 15:30)

Seperti Al-Quran, Alkitab juga mengajarkan bahwa Isa tidak hanya mampu menyembuhkan, ia juga mampu memberikan kehidupan bagi orang-orang yang sudah mati.

Pada kedatangannya, Isa menemukan bahwa Lazarus sudah berada di dalam kubur selama empat hari. Isa, sekali lagi sangat terharu, datang ke kuburan. Ini adalah sebuah gua dengan sebuah batu yang diletakkan di pintu masuk. “Pinggirkan batu itu,” katanya. Isa memanggil dengan suara keras, “Lazarus, keluar!” Orang yang sudah mati itu keluar, tangan dan kakinya dibungkus dengan kain kafan, dan sebuah kain juga membalut wajahnya. (Cerita lengkap di Yahya 11:17-44)

Tetapi Isa tidak hanya diberi tanda-tanda, baik Al-Quran dan Alkitab mengajarkan bahwa Isa sendiri adalah sebuah Tanda bagi umat manusia.

Al-Quran mengatakan bahwa ketika Allah memutuskan untuk mengirim Isa, malaikat-malaikat di sorga bertengkar dan mengundi tentang siapakah yang akan merawat ibu Isa, Maryam. Kita tidak dapat menemukan di tempat lain di dalam Al-Quran tentang kegembiraan seperti itu yang terjadi di surga.

“padahal kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa.” (Surah 3:44)

Mengapa terjadi begitu banyak kegembiraan? Apakah itu karena untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, seorang bayi akan lahir dari seorang perawan?

Al-Quran mengatakan bahwa Maryam mengatakan, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina! Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.” (Surah 19:20-21)

Alkitab juga memberitahu kita bahwa kelahiran Isa adalah tanda dari Allah ketika ia mengatakan, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (artinya Allah beserta kita).” (Yesaya 7:14)

Memang, itu adalah suatu Tanda karena kelahiran Isa begitu unik. Selain Adam dan Hawa yang tidak memiliki orang tua, semua manusia lain datang ke dunia ini melalui orang tua mereka. Menurut Anda mengapa Isa adalah satu-satunya orang di dunia yang lahir secara supernatural dari seorang perawan? Apa yang Allah ingin ungkapkan kepada kita?

Tentunya Allah menggunakan kelahiran supernatural ini untuk menunjukkan kepada kita bahwa Isa adalah seorang Tanda bagi seluruh dunia. Kadang-kadang kita berpikir bahwa Isa hanya diutus kepada orang-orang Yahudi atau umat Kristen namun baik dalam Al-Quran dan Alkitab jelas bahwa Isa adalah tanda bagi umat manusia.

Isa Al-Masih Rahmat dari Allah

Kita telah belajar dari bab-bab lain bahwa Allah adalah Allah yang penuh rahmat dan mengampuni orang-orang bahkan ketika mereka berdosa jika mereka datang kepada-Nya dan bertobat. Rahmat Allah dapat dilihat di dalam kehidupan Isa. Baik Al-Quran maupun Alkitab mengajarkan bahwa Allah mengutus Isa ke bumi sebagai ungkapan rahmat-Nya.

Al-Quran mengatakan bahwa Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. (Surah 19:20-21)

Melalui kehidupan Isa, Allah menunjukkan rahmat-Nya dalam berbagai cara. Sebagai contoh, Isa berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan orang sakit. Dia tidak menghindari bahkan mereka yang najis. Ketika ia menyentuh orang kusta najis, mereka sembuh dan menjadi bersih (Matius 8:2-3).

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa Isa menunjukkan rahmat bahkan kepada orang-orang berdosa dan memiliki wewenang untuk mengampuni orang-orang yang berbuat dosa terhadap Allah.

Ketika salah satu dari orang-orang Farisi mengundang Isa untuk makan malam bersamanya, ia pergi ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk di meja. Seorang wanita di kota itu yang menjalani kehidupan yang penuh dosa mengetahui bahwa Isa sedang makan di rumah orang Farisi itu, jadi dia datang ke sana dengan buli-buli pualam parfum. Saat ia berdiri di belakang Isa dekat kaki-Nya ia menangis, ia mulai membasahi kaki Isa dengan air matanya … Lalu Isa berkata kepadanya, “dosa-dosa Anda diampuni.” (Cerita lengkap di Lukas 7:36-48)

Isa juga mengungkapkan kepada kita rahmat Allah melalui ajaran-ajarannya. Ia mengajarkan bahwa kita tidak hanya harus mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, tetapi juga musuh-musuh kita.

Isa mengatakan, “Kamu telah mendengar Firman, ‘Hendaklah engkau mengasihi temanmu dan membenci seterumu.’ Tetapi Aku berkata kepadamu, kasihilah mereka yang menyeterui kamu dan doakanlah orang-orang yang menganiaya kamu. Dengan demikian kamu bertindak sebagai anak-anak sejati dari Bapamu yang di surga” (Matius 5:43-45)

Isa mengajarkan kita untuk tidak menghakimi orang-orang kafir dan orang-orang berdosa. Ia bersikap sabar dengan mereka dan mereka pun bertobat karena mereka tersentuh oleh karena ia menunjukkan kasihnya terhadap mereka.

Alkitab memberitahu kita, “Orang-orang dari mazhab Farisi dan para ahli Kitab Suci Taurat melihat hal itu. Mereka bersungut-sungut dan berkata kepada para pengikut-Nya, “Mengapa kamu makan dan minum dengan para pemungut cukai dan para pendosa?” Sabda Isa kepada mereka, “Orang-orang sehat tidak memerlukan tabib, melainkan orang-orang sakitlah yang memerlukannya. Aku datang bukan untuk memanggil orang-orang saleh melainkan orang-orang berdosa, supaya mereka bertobat.”” (Lukas 5:30-32)

Allah adalah Allah yang penuh rahmat dan Dia ingin memanggil orang-orang berdosa untuk bertobat dan datang kepada-Nya. Isa mengatakan kisah ini kepada murid-muridnya untuk mengajarkan mereka supaya mereka jangan bersandar kepada kebajikan mereka sendiri melalui perbuatan baik tetapi supaya mereka datang ke hadapan Allah dan sepenuhnya bersandar pada rahmat-Nya untuk menyelamatkan mereka.

Lalu Isa menyampaikan lagi suatu ibarat kepada orang-orang yang merasa diri benar dan menganggap rendah orang lain. Sabda-Nya, “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Seorang di antaranya adalah orang dari mazhab Farisi dan yang lainnya adalah seorang pemungut cukai. Orang dari mazhab Farisi itu berdiri dan berdoa begini di dalam hatinya, ‘Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu karena aku tidak seperti orang lain. Aku bukan perampas, bukan orang yang tidak adil, bukan pezina, dan bukan pula seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali seminggu dan aku pun mempersembahkan kepada Tuhan sepersepuluh dari penghasilanku.’ Akan tetapi, pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit. Sambil memukul-mukul dada tanda menyesal ia berkata, ‘Ya Allah, kasihanilah aku, orang yang berdosa!’ Aku berkata kepadamu, pemungut cukai itu pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah, bukan orang dari mazhab Farisi itu.” (Lukas 18:9-14)

Apakah kita bersandar pada perbuatan baik kita sendiri untuk menyelamatkan kita atau kita mengakui bahwa kita adalah orang berdosa yang membutuhkan rahmat Allah untuk menyelamatkan kita?

Isa akan datang kembali ke bumi

Kaum Muslim dan kaum Kristen percaya bahwa Isa, yang kini di hadapan Allah, akan datang kembali ke bumi suatu hari kelak.

Dalam Al-Quran Isa berbicara tentang kematian dan kenaikan-Nya ke surga, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Surah 19:33)

Selain itu, Al-Quran mengajarkan bahwa Isa akan datang kembali ke bumi suatu hari. Al-Quran mengatakan bahwa kedatangan Isa akan menjadi tanda bahwa Hari Kiamat sudah dekat (yaitu hari-hari terakhir).

Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (Surah 43:61)

Alkitab juga mencatat peristiwa Isa dibawa ke surga. Segera setelah itu, dua malaikat muncul kepada murid-murid-Nya dan mengatakan kepada mereka bahwa Isa akan datang kembali ke bumi suatu hari.

Setelah bersabda demikian, Isa terangkat naik ke surga, disaksikan oleh rasul-rasul-Nya. Tiba-tiba ada awan yang meliputi-Nya sehingga Ia lenyap dari penglihatan mereka. Ketika mereka masih juga menatap ke langit menyaksikan kepergian Isa, tiba-tiba dua orang berpakaian putih berdiri dekat mereka. Kedua orang itu berkata, “Hai kamu, orang Galilea! Mengapa kamu berdiri saja di situ memandang ke langit? Isa itu, yang kamu lihat terangkat naik ke surga meninggalkan kamu, nanti akan datang lagi dengan cara yang sama sebagaimana kamu lihat Dia naik ke surga.” (Kisah Para Rasul 1:9-11)

Apa yang akan Isa lakukan ketika dia kembali ke Bumi? Kaum Muslim maupun kaum Kristen percaya bahwa ketika Isa datang, ia akan menghancurkan kejahatan.

Karena Isa adalah kudus dan tanpa dosa, ia mampu menghancurkan kejahatan. Ketika setan melihat Isa, mereka mengakui siapakah dia dan berkata, “Apa sangkut paut-Mu dengan kami, hai Isa orang Nazaret? Apakah Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau! Engkau adalah Yang Suci, yang datang dari Allah!” (Markus 1:24)

Kaum Muslim percaya bahwa ketika Isa datang ke bumi untuk kedua kalinya, ia akan menghancurkan kekuatan jahat terkemuka yang disebut Dajjal. Alkitab menggambarkan kejahatan utama ini pada hari-hari terakhir sebagai binatang dan ketika Isa datang, dia akan berperang melawan binatang itu dan mengalahkannya.

Ia memakai jubah yang telah dicelup dengan darah, dan nama-Nya disebut Kalam Allah. Lalu aku melihat binatang itu dan semua raja di bumi dengan bala tentara mereka berkumpul hendak berperang dengan Penunggang kuda itu dan tentara-Nya. Binatang itu pun ditawan bersama-sama dengan nabi palsu yang telah mengadakan tanda-tanda di hadapannya. (Wahyu 19:13, 19-20)

Isa Al-Masih memberikan jaminan surga kepada pengikutnya

Sebagai pengikut Allah, akan sangat menghibur bagi kita untuk mengetahui dengan pasti apakah Allah akan menerima kita atau menolak kita di hari kiamat. Dalam Al-Quran dan Alkitab, para pengikut Isa menerima jaminan hidup yang kekal di surga.

Dalam Al-Quran, Allah berjanji kepada Isa bahwa mereka yang mengikuti Dia akan lebih tinggi daripada orang-orang kafir.

Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. (Surah 3:55)

Al-Quran juga menyebut para pengikut Isa sebagai kaum Muslim yang sejati. Kita membaca, “Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Surah 3:52)

Dalam ayat lain di dalam Al-Quran, Isa meyakinkan para pengikutnya bahwa mereka tidak perlu takut pada hari kiamat.

Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Surah 43:68)

Apakah kita memiliki keyakinan bahwa Allah akan menyelamatkan kita dari dosa dan bahwa kita akan hidup kekal bersama Allah di surga?

Di dalam Alkitab, Isa juga menjanjikan kehidupan kekal bagi mereka yang mengenal Allah dan mengikutinya. Isa berkata, “Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau sebagai satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Isa Al Masih yang telah Engkau utus.” (Yahya 17:3)

Jika Anda ingin masuk ke surga, apakah Anda tidak ingin mengikuti seseorang yang sudah ada di surga dan tahu jalan langsung ke surga?

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Surah 43:61)

Di dalam Alkitab, Isa mengatakan, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Sang Bapa kecuali melalui Aku.” (Yahya 14:6)

Apakah Anda ingin memiliki keyakinan bahwa Allah akan menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda dan memberikan Anda hidup yang kekal?